Receh Banget – Kalau ada orang yang bisa membuat kalimat sederhana terdengar seperti filsafat, tapi setelah dibaca malah bikin kita ketawa, salah satu orangnya adalah Pidi Baiq.
Buat yang belum kenal, Pidi Baiq adalah seniman, penulis, ilustrator, dan musisi asal Bandung. Namanya semakin dikenal luas lewat novel Dilan 1990, selain berbagai karya lain dan kiprahnya bersama The Panasdalam. Gaya tulisannya punya ciri khas sendiri: santai, absurd, romantis, kadang seperti orang sedang ngobrol di warung kopi, tetapi tiba-tiba kalimat berikutnya membuat kita bengong.
Pidi Baiq tidak selalu menulis seperti orang yang sedang mengajarkan kehidupan.
Justru sebaliknya. Kadang seperti orang yang sedang bercanda. Tapi setelah selesai membaca, kita malah mikir.
“Anjir… bener juga.”
Mungkin itu salah satu kekuatan Pidi Baiq. Ia tidak perlu menggunakan kata-kata yang terlalu tinggi untuk membicarakan hal-hal yang dalam.
Berikut lima kata-kata Pidi Baiq yang lucu, sederhana, tetapi kalau dipikir-pikir lumayan bisa mengganggu ketenangan pikiran.
1. “Masalah adalah apa yang kamu anggap masalah.”
Kalimatnya pendek. Tapi efek sampingnya panjang.
Sebab memang kadang yang membuat kita capek bukan masalahnya, melainkan pikiran kita sendiri.
Orang belum membalas WhatsApp lima menit, sudah berpikir macam-macam.
Belum dibayar orang, sudah membuat skenario.
Saldo tinggal sedikit, langsung merasa masa depan sedang melakukan pembakaran tahap kedua.
Padahal belum tentu seburuk itu.
Kadang masalah hanya masalah.
Kita yang kemudian memberinya nama, alamat, nomor telepon, lalu mengundangnya tinggal di kepala.
Pidi Baiq seperti mengingatkan bahwa cara kita memandang sesuatu bisa menentukan seberapa besar sesuatu itu terasa.
Masalah tetap ada.
Tapi kita tidak harus ikut menjadi masalah.
2. “Tetap tenang, hanya itu caranya kalau kamu ingin tetap tenang.”
Ini nasihat yang sederhana.
Sekaligus menyebalkan.
Sebab ketika sedang panik, disuruh tenang itu rasanya seperti menyuruh orang lapar untuk tidak memikirkan nasi.
Tapi memang begitu.
Panik tidak pernah menyelesaikan masalah.
Ia hanya membuat masalah punya teman.
Kalau ada masalah, selesaikan sebisanya.
Kalau belum bisa diselesaikan, tunggu.
Kalau memang harus diterima, terima.
Dan kalau semuanya sudah dilakukan, sisanya mungkin memang harus diserahkan kepada Tuhan.
Sebab hidup tidak selalu meminta kita tahu jawabannya.
Kadang hidup hanya meminta kita tetap tenang sambil berjalan.
3. “Kalau kamu galau, kamu sedang menikmati keresahanmu, bukan sedang menyelesaikannya.”
Ini agak nyelekit.
Karena ada kalanya kita sebenarnya tidak sedang mencari solusi.
Kita sedang menikmati penderitaan.
Dipikirkan.
Diceritakan.
Diunggah.
Dihapus.
Diunggah lagi.
Kemudian berharap seseorang melihat.
Galau memang manusiawi.
Tapi kalau terlalu lama, galau bisa berubah menjadi profesi.
Padahal hidup terus berjalan.
Orang lain tetap bekerja.
Tukang bakso tetap keliling.
Tagihan tetap datang tanpa mengenal kondisi psikologis.
Maka sesekali kita perlu berhenti bertanya, “Kenapa ini terjadi kepada saya?”
Lalu menggantinya dengan pertanyaan yang lebih berguna:
“Sekarang saya harus melakukan apa?”
Karena tidak semua masalah membutuhkan kita untuk terus memikirkannya.
Sebagian hanya membutuhkan keberanian untuk melangkah.
4. “Mengapa istri harus bisa masak, padahal itu rumah tangga bukan rumah makan.”
Nah.
Kalau kalimat ini dibaca sekilas, kita mungkin ketawa.
Tapi kalau dipikir lebih lama, sebenarnya ada sesuatu yang serius.
Rumah tangga memang bukan rumah makan.
Istri bukan koki.
Suami bukan kasir.
Anak-anak bukan pelanggan.
Tidak ada daftar menu.
Tidak ada tulisan, “Nasi goreng spesial tersedia pukul 19.00–21.00.”
Rumah adalah tempat orang-orang belajar hidup bersama.
Hari ini mungkin istri masak.
Besok suami yang masak.
Hari ini suami mencari nafkah.
Besok mungkin suami sedang jatuh dan istrinya yang menguatkan.
Kadang kontribusi seseorang di dalam keluarga tidak kelihatan.
Tapi bukan berarti tidak berarti.
Sebab dalam rumah tangga, yang paling penting bukan siapa yang paling banyak melakukan.
Melainkan siapa yang tetap mau saling membantu ketika keadaan sedang tidak mudah.
Romantis itu tidak selalu bunga.
Kadang cukup:
“Udah, sini aku yang cuci piring.”
Kalimat sederhana.
Tapi bisa menyelamatkan rumah tangga dari perang dunia ketiga.
5. “Cinta itu indah, jika bagimu tidak, mungkin kamu salah memilih pasangan.”
Kalimat ini terdengar seperti candaan.
Tapi urusan cinta memang sering begitu.
Saat muda, kita mengira cinta adalah deg-degan.
Lalu setelah menikah, kita baru tahu cinta juga berarti bayar listrik, mengurus anak, menahan emosi, memahami pasangan, dan tetap pulang meskipun hari sedang kacau.
Cinta akhirnya bukan lagi soal siapa yang paling pandai membuat kata-kata romantis.
Cinta adalah siapa yang masih ada ketika hidup tidak romantis.
Ketika uang sedang sedikit.
Ketika badan sedang capek.
Ketika suasana hati sedang buruk.
Ketika dua-duanya sama-sama keras kepala.
Dan ketika tidak ada yang punya jawaban.
Mungkin cinta yang matang memang sesederhana itu:
Tetap ada.
Tetap menemani.
Tetap berusaha mengerti.
Tetap pulang.
Pada akhirnya…
Itulah yang menarik dari Pidi Baiq.
Ia bisa membuat kita tertawa tanpa kehilangan makna.
Bisa membuat kalimat sederhana terasa dalam.
Dan bisa membuat sesuatu yang serius terasa tidak terlalu menakutkan.
Mungkin karena hidup sendiri sebenarnya memang seperti itu.
Tidak semuanya harus dipikirkan dengan dahi berkerut.
Kadang kita perlu tertawa.
Kadang perlu menangis.
Kadang perlu diam.
Kadang perlu ngopi.
Dan kadang, setelah semua usaha dilakukan, kita cuma perlu berkata:
“Ya sudah. Jalani saja.”
Sebab mungkin hidup bukan tentang bagaimana kita menemukan semua jawaban.
Tapi tentang bagaimana kita tetap berjalan meskipun belum tahu semuanya.
Dan kalau sedang terlalu serius menghadapi hidup, ingat saja:
Jangan lupa tertawa.
Karena kalau hidup sudah berat, jangan sampai kita ikut-ikutan jadi orang berat.
Nanti susah diangkat.***

