Receh Banget – Konfusius adalah salah satu filsuf besar dari Tiongkok yang pemikirannya masih dibicarakan sampai sekarang. Padahal kalau hidup di zaman sekarang, mungkin beliau juga akan bingung melihat manusia bisa bertengkar hanya gara-gara komentar Facebook.
Ada banyak pesan Konfusius yang sebenarnya sederhana, tetapi dalam. Lima di antaranya mungkin bisa jadi bahan renungan.
1. Belajar sepanjang hidup
Bagi Konfusius, manusia tidak pernah selesai belajar. Sekolah boleh tamat, tetapi belajar jangan pensiun.
Sebab hidup selalu punya pelajaran baru. Kadang gurunya buku. Kadang pengalaman. Kadang justru orang yang bikin kita kesal.
Bedanya, kalau belajar dari buku kita bisa menutup halaman. Kalau belajar dari manusia, kadang halaman itu ikut ngejar sampai rumah.
2. Jangan takut berjalan lambat
Tidak masalah bergerak perlahan, selama tidak berhenti.
Ini penting karena zaman sekarang semua orang kelihatannya berlomba. Ada yang pamer bisnis, investasi, rumah, kendaraan, sampai sarapan.
Padahal hidup bukan perlombaan lari 100 meter. Setiap orang punya jalurnya sendiri.
Yang penting bukan siapa paling cepat, tetapi siapa yang tetap berjalan ketika yang lain memilih menyerah.
3. Perbaiki diri sebelum menyalahkan orang lain
Kita sering lebih cepat menemukan kesalahan orang lain daripada kesalahan sendiri.
Orang lain telat sedikit, kita kritik. Kita telat, alasannya macet.
Orang lain boros, kita bilang tidak bisa mengatur uang. Kita belanja, namanya self reward.
Konfusius mengajarkan bahwa perubahan paling masuk akal dimulai dari diri sendiri.
4. Perlakukan orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan
Sederhana, tapi sering lupa.
Kalau ingin dihargai, belajar menghargai. Kalau ingin didengarkan, belajar mendengarkan.
Sebab hidup itu seperti kaca. Kadang apa yang kita berikan akan kembali kepada kita, meskipun tidak selalu lewat orang yang sama.
5. Pilih pekerjaan yang membuat hidup terasa berarti
Kerja memang penting. Uang juga penting. Tagihan bahkan lebih penting lagi karena tidak mengenal filosofi.
Tetapi hidup tidak seharusnya hanya berisi bangun, kerja, pulang, tidur, lalu mengulanginya sampai lupa kapan terakhir kali merasa bahagia.
Pada akhirnya, manusia membutuhkan sesuatu yang membuat hidupnya terasa berarti.
Mungkin itu keluarga. Mungkin karya. Mungkin membantu orang lain.
Atau mungkin cukup dengan bisa pulang ke rumah dan melihat orang-orang yang kita cintai masih menunggu.
Karena hidup bukan hanya tentang berapa banyak yang berhasil kita kumpulkan, tetapi juga tentang apa yang berhasil kita maknai.***

