Receh Banget – Hidup bertetangga itu sebenarnya sederhana. Kita tidak harus berteman dekat dengan semua orang, apalagi sampai tahu PIN ATM tetangga. Cukup saling menghormati, saling menyapa, dan jangan membuat orang lain ingin pindah rumah.
Berikut lima tips sederhana supaya hubungan dengan tetangga tetap adem.
Pertama, jangan rebutan tempat parkir.
Ini perkara kecil yang bisa berubah menjadi konflik internasional.
Kalau depan rumah bukan wilayah pribadi, jangan merasa tanah tersebut sudah diwariskan tujuh turunan. Apalagi sengaja menaruh kursi, pot, ember, atau galon kosong sebagai tanda kepemilikan.
Kalau memang perlu parkir, ngobrol baik-baik. Jangan langsung pasang status WhatsApp, “Ada orang yang kalau punya rumah lupa jalan umum.”
Satu kampung bisa membaca. Satu kampung juga bisa menebak siapa orangnya.
Kedua, kalau ketemu, sapa.
Tidak perlu pidato.
Cukup, “Punten, Pak.” Atau, “Mangga, Bu.”
Senyum sedikit juga boleh. Jangan sampai setiap berpapasan wajah kita seperti debt collector sedang mencari alamat.
Sapaan sederhana bisa menjaga hubungan tetap hangat, bahkan ketika sebelumnya kita tidak pernah ngobrol.
Ketiga, jangan terlalu kepo.
Tetangga beli mobil baru, ya ucapkan selamat. Tidak perlu langsung bertanya, “DP berapa?”
Tetangga renovasi rumah, jangan ditanya total biayanya.
Anaknya kuliah, jangan ditanya IPK.
Istrinya beli tas baru, jangan ikut menghitung cicilan.
Ada batas antara perhatian dan menjadi BPKB berjalan.
Keempat, kalau ada masalah, ngomong langsung.
Ini penting.
Jangan setiap ada masalah langsung bikin status: “Ternyata orang yang kita anggap baik belum tentu baik.”
Sementara yang membaca satu RT.
Kalau ada persoalan, bicarakan dengan kepala dingin. Bisa jadi masalah yang kita anggap besar sebenarnya cuma kesalahpahaman.
Kelima, mau membantu ketika tetangga membutuhkan.
Tidak perlu menunggu menjadi orang kaya untuk berbuat baik.
Kadang bantuan sederhana seperti meminjamkan kursi, membantu mengangkat barang, menjaga rumah ketika tetangga pergi, atau sekadar menjenguk ketika sakit sudah cukup berarti.
Sebab hidup bertetangga bukan tentang siapa yang rumahnya paling besar.
Yang penting, ketika kita membutuhkan bantuan, masih ada orang yang berkata, “Kumaha, tiasa dibantos?”
Dan ketika tetangga sedang membutuhkan, kita juga tidak pura-pura sedang tidak ada di rumah.
Intinya sederhana: jangan bikin tetangga susah, jangan terlalu kepo, jangan gampang tersinggung, dan kalau ada masalah jangan diselesaikan lewat status WhatsApp.
Kita ini tetangga.
Bukan pemeran sinetron yang harus punya konflik setiap episode.***

