Receh Banget – Jadi warga Bandung itu sebenarnya sebuah keberuntungan.
Bangun pagi, udara masih adem. Keluar rumah, ketemu kabut tipis. Lima menit kemudian keluar lagi… kabutnya berubah jadi asap knalpot. Ya, namanya juga Bandung. Paket lengkap.
Di Bandung, kita juga nggak pernah kehabisan alasan buat keluar rumah. Mau ngopi ada. Mau kulineran ada. Mau jalan-jalan ada. Mau healing juga gampang—tinggal ke daerah atas, lihat pemandangan, lalu pulang setelah sadar saldo tinggal segitu-gitunya.
Bandung juga punya bakat khusus: bikin orang betah. Yang awalnya cuma mau berkunjung sehari, tiba-tiba bilang, “Kayaknya enak tinggal di Bandung.” Besoknya cari kontrakan. Sebulan kemudian cari kos. Enam bulan kemudian ngomel, “Aduh, Bandung macet!”
Tapi justru di situlah lucunya.
Kita sering mengeluh tentang Bandung, tapi kalau disuruh pindah… mikirnya lama.
Karena Bandung bukan cuma soal udara sejuk, kuliner enak, tempat nongkrong, atau pemandangan indah. Bandung itu soal suasana. Soal keramahan. Soal budaya. Soal orang-orangnya yang bisa ngobrol sama siapa saja, bahkan sama tukang batagor pun kadang sudah seperti teman lama.
Jadi kalau hari ini kita masih bisa menikmati pagi di Bandung, ngopi sore sambil melihat langit berubah warna, lalu malamnya pulang ke rumah dengan selamat…
Sebenarnya kita sedang menikmati keberuntungan yang sering lupa kita syukuri.
Sebab menjadi warga Bandung itu unik.
Bisa mengeluh karena macet, tapi tetap cinta kotanya.
Bisa kepanasan, tapi tetap bilang Bandung adem.
Bisa bokek, tapi tetap ngajak teman: “Hayu ngopi.”
Itulah Bandung.
Kota yang kadang bikin kesal, tapi lebih sering bikin kangen.***

