RECEHBANGET.NET – Ada fenomena yang sepertinya layak masuk jurnal internasional. Semakin lama seorang mahasiswa kuliah, kadang semakin stabil hubungan percintaannya.
Semester 8 masih pacaran. Semester 10 masih pacaran. Semester 12 masih pacaran. Semester 13? Pacarnya masih sama. Skripsinya juga masih sama.
Yang berubah cuma password WiFi kampus.
Teman-temannya sudah wisuda satu per satu. Ada yang sudah kerja, ada yang sudah menikah, ada yang sudah punya anak. Bahkan ada yang anaknya sudah mulai masuk PAUD.
Sementara dia masih membuka file:
SKRIPSI_FIX_BANGET_FINAL_REVISI_TERAKHIR_3_BENERAN.docx
Dibuka. Dilihat. Ditutup. Besoknya dibuka lagi. Begitu terus sampai laptopnya yang minta wisuda duluan.
Tapi kita jangan buru-buru menghakimi mahasiswa lama kuliah sebagai pemalas. Hidup tidak sesederhana itu. Ada yang harus bekerja sambil kuliah, punya persoalan keluarga, terkendala ekonomi, penelitian yang berantakan, dosen pembimbing yang susah ditemui, atau memang sedang berjuang menyelesaikan sesuatu yang tidak mudah.
Namun, di tengah semua perjuangan itu ada satu misteri yang menarik:
Kenapa chat pacar bisa dibalas lebih cepat daripada chat dosen?
Pacar: “Sayang, kamu di mana?”
“Di rumah.”
Dosen: “Bagaimana revisinya?”
Seen 08.12.
Last seen 14.47.
“Maaf Pak, baru buka WhatsApp.”
BARU BUKA WHATSAPP?
Status WhatsApp sudah dilihat 17 orang.
Video TikTok sudah ditonton 46 menit.
Marketplace sudah dibuka. Keranjang Shopee sudah penuh. Tapi WhatsApp dosen baru dibuka setelah matahari hampir tenggelam.
Ini bukan masalah teknologi. Ini masalah keberanian menghadapi kenyataan.
Skripsi terasa berat. Pacaran terasa ringan. Maka otak memilih yang ringan.
Skripsi bikin pusing. Pacar bikin senyum. Maka tangan otomatis membuka WhatsApp.
Masalahnya, hidup tidak pernah selesai hanya karena kita berhasil membuat diri sendiri nyaman.
Ada kalanya kita harus melakukan sesuatu yang tidak menyenangkan.
Ngerjain skripsi. Cari kerja. Belajar. Mengurus keluarga. Menyelesaikan utang. Membangun usaha. Atau sekadar bangun pagi tanpa merasa dunia punya kewajiban menghibur kita.
Dan di sinilah pasangan sebenarnya bisa punya peran penting. Pasangan yang baik bukan cuma menjadi tempat pelarian. Dia bisa menjadi orang yang mengingatkan:
“Kamu boleh capek, tapi jangan menyerah.”
Bahkan kadang:
“Udah curhatnya. Sekarang skripsinya dikerjain.”
Romantis sekali. Bukan pacar. Dosen pembimbing berkedok kekasih.
Hubungan yang sehat bukan hubungan yang membuat kita lupa dengan tujuan hidup. Justru pasangan ideal adalah orang yang ikut menjaga kita agar tidak kehilangan arah.
Kalau setiap kali stres kita kabur bersama pasangan, lama-lama bukan pasangan yang menjadi support system. Pacar berubah menjadi tombol ESC kehidupan.
Ada masalah, ESC. Ada tugas, ESC. Ada revisi, ESC. Ada deadline, ESC.
Sampai akhirnya umur 30 dan masih berkata: “Gue sebenarnya punya potensi.”
Potensinya memang ada. Cuma belum pernah diinstal.
Jadi buat kamu yang sekarang semester 13, santai. Jangan minder.
Kamu bukan gagal hanya karena belum lulus. Yang penting jangan berhenti. Karena hidup bukan perlombaan siapa yang paling cepat selesai.
Ada orang yang cepat lulus tapi lama menemukan arah hidup. Ada yang lambat lulus tapi kemudian menemukan jalannya.
Ada yang lulus tepat waktu lalu bingung. Ada yang terlambat lulus tapi justru matang karena prosesnya.
Yang bahaya bukan terlambat. Yang bahaya adalah nyaman dengan keterlambatan.
Jadi silakan tetap sayang pacar. Tetap jalan. Tetap makan bareng. Tetap bikin konten couple kalau mau. Tapi sesekali buka juga skripsinya.
Jangan sampai hubungan sudah anniversary ke-7 sementara Bab II masih:
“Menurut pendapat beberapa ahli…”
Ahlinya siapa?
Belum ketemu.
Dan kalau akhirnya kamu lulus setelah perjalanan panjang, jangan malu dengan angka semestermu.
Karena toga tidak punya tulisan:
“Semester 8.”
Atau:
“Semester 13.”
Yang terlihat cuma satu: Kamu berhasil menyelesaikannya.
Tapi sebelum itu…
Tolong revisi dulu.
Pacar bisa menunggu.
Kopi bisa dibuat lagi.
TikTok bisa dibuka nanti.
Dosen?
Belum tentu.
Nah kitu Cu.***

