Receh Banget – Kalau ada pejabat yang datang ke suatu tempat lalu langsung dikerumuti emak-emak dan nini-nini, biasanya kita mulai curiga. Ini acara pemerintahan atau reuni keluarga?
Salah satu sosok yang sering terlihat akrab dengan warga, termasuk para nini-nini, adalah Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi alias KDM.
Entah kenapa, KDM punya aura yang agak berbeda dari pejabat pada umumnya. Datang bukan selalu dengan gaya “Yang Terhormat”, jas rapi, dan bahasa yang kalau didengar lima menit bikin kita ingin mencari colokan untuk mengisi daya otak.
KDM kadang tampil dengan gaya yang lebih membumi. Ngobrol dengan warga, bercanda, turun langsung, bahkan ikut melakukan hal-hal yang bagi pejabat lain mungkin perlu rapat tiga kali dan dibuatkan notulen.
Nah, mungkin justru di situlah masalahnya.
KDM ini unik.
Unik dalam arti positif, tentunya.
Sebab kalau pejabat lain bikin warga menjaga jarak, KDM malah seperti punya magnet sosial. Baru muncul, orang-orang langsung mendekat.
Terutama nini-nini.
Belum sempat pengawalnya bikin pagar manusia, sudah ada yang nyeletuk, “Pak Dedi!”
Yang lain ikut mendekat.
“Pak, sini dulu!”
“Pak, foto!”
“Pak, abdi hoyong nyarios!”
Lima menit kemudian, KDM sudah dikelilingi nini-nini seperti cucu kesayangan yang baru pulang dari Jakarta.
Bedanya, kalau cucu biasanya ditanya, “Sudah makan?”
KDM mungkin ditanya, “Kumaha, Pak, Jawa Barat?”
Ini kalau sudah begini, protokol pemerintahan kalah sama protokol nini-nini.
Dan kita harus mengakui, nini-nini memang punya radar sosial yang luar biasa.
Mereka bisa tahu mana orang yang sok penting, mana yang benar-benar mau ngobrol.
Mereka juga tidak terlalu peduli jabatan.
Gubernur? Ya gubernur.
Tapi kalau sudah dianggap “budak urang”, selesai.
Jabatan boleh gubernur.
Di hadapan nini-nini tetap saja: “Sini heula, Nak.”
Mungkin salah satu daya tarik KDM memang karena gaya komunikasinya tidak terlalu berjarak. Ada humor, ada spontanitas, ada bahasa yang dekat dengan keseharian masyarakat Sunda.
Dan bagi nini-nini, pejabat yang bisa diajak ngobrol santai mungkin terasa lebih dekat daripada pejabat yang cuma terlihat dari layar televisi.
Tapi jangan salah.
Digerumuti nini-nini bukan berarti otomatis semua urusan beres.
Setelah foto bersama, tetap ada jalan yang harus diperbaiki, pendidikan yang harus dibenahi, ekonomi yang harus dipikirkan, dan seabrek pekerjaan pemerintahan yang tidak bisa diselesaikan dengan senyum dan “muhun”.
Namun setidaknya, ada satu hal menarik dari fenomena ini.
Kadang orang lebih mudah menerima pesan dari seseorang yang terasa dekat.
Mungkin itu sebabnya KDM sering terlihat dikerumuti.
Bukan semata karena beliau gubernur.
Bisa jadi karena gaya “pejabat”-nya tidak terlalu terasa sebagai pejabat.
Dan kalau sudah begini, kita cuma bisa bilang:
Di Jawa Barat ada banyak jalan menuju kantor gubernur.
Tapi kalau mau sampai ke hati nini-nini, ternyata jalannya cukup satu: ulah sok jadi pejabat teuing.
Jadi manusia dulu.
Sisanya, nini-nini yang menilai.
Dan kalau sudah dipanggil, “Nak…”
Wah, itu mah jabatan politik sudah kalah jauh.
Sudah masuk jabatan cucu.***

