Receh Banget – Ada alasan kenapa orang Indonesia sebenarnya harus belajar santai. Bukan karena hidup kita terlalu mudah, justru karena hidup kadang terlalu rajin memberikan kejutan.
Pagi-pagi baru buka mata, sudah ada notifikasi tagihan. Buka media sosial, teman sudah liburan ke Jepang. Buka grup WhatsApp, ada yang kirim berita bikin emosi. Keluar rumah, jalanan macet. Sampai kantor, bos bilang, “Sebentar ya, ada yang mau dibicarakan.” Kalimat “sebentar” ini kadang durasinya lebih panjang daripada sinetron.
Belum lagi urusan tetangga. Baru saja beli motor, ditanya, “Baru, Kang?” Belum sempat jawab, pertanyaan berikutnya sudah muncul, “Kredit atanapi cash?” Lah, ieu mah bukan tetangga, tapi petugas survei.
Makanya tinggal di Indonesia itu perlu sedikit kemampuan untuk berkata, “Ya sudah.” Bukan berarti menyerah. Tapi sadar bahwa tidak semua hal bisa kita kendalikan.
Hujan turun saat jemuran belum diangkat? Ya sudah. Macet panjang? Ya sudah, dengarkan podcast. Harga kebutuhan naik? Tarik napas dulu, jangan langsung memarahi kulkas.
Santai bukan berarti malas atau tidak peduli. Santai itu kemampuan menjaga kepala tetap dingin ketika keadaan sedang panas-panasnya.
Sebab kalau semua masalah dimasukkan ke hati, yang rusak bukan masalahnya. Kita.
Urang mah kudu bisa seuri saeutik. Hidup sudah cukup serius, jangan semua hal dibuat seperti sidang pengadilan.
Toh pada akhirnya, hidup ini bukan lomba siapa yang paling cepat stres.
Kadang kita memang perlu berhenti sebentar, melihat keadaan, lalu bilang dalam hati: “Nya kumaha deui…”
Setelah itu lanjut lagi.
Karena hidup harus tetap berjalan, meskipun kadang jalannya berlubang, macet, dan ada orang yang sein kanan belok kiri.***

