Receh Banget – Kenapa Warga Bandung Suka Banget Sama Kerupuk Direbus alias Seblak?
Ada satu hal yang sampai hari ini mungkin masih membingungkan umat manusia: kenapa orang Bandung tega merebus kerupuk?
Kerupuk yang seharusnya punya tugas mulia sebagai makanan renyah, kriuk-kriuk, teman nasi, malah dicemplungkan ke air, direbus sampai lembek, lalu dicampur cabai, bawang, telur, ceker, tulang, bakso, sampai segala macam benda yang secara administratif sudah tidak jelas lagi namanya.
Namanya seblak.
Bagi sebagian orang, seblak mungkin terlihat seperti kerupuk yang sedang mengalami krisis identitas.
Tapi bagi warga Bandung, ini bukan sekadar makanan. Ini adalah jalan hidup.
Bayangkeun, kerupuk yang tadinya punya cita-cita menjadi renyah, tiba-tiba harus berakhir lembek karena keputusan hidup orang Bandung.
“Maaf, aku nggak bisa jadi kerupuk biasa.”
“Kenapa?”
“Aku ingin menjadi seblak.”
Begitulah kira-kira.
Yang lebih luar biasa, tingkat kepedasan seblak juga kadang sudah tidak manusiawi. Ada yang level satu, dua, tiga. Lalu ada yang bilang, “Mang, pedasnya biasa aja.”
Lima menit kemudian mukanya merah, hidung berair, keringat bercucuran, tapi masih bilang, “Enak, Mang.”
Itu bukan makan. Itu ujian keimanan..Anehnya lagi, setelah kepedesan, bukannya kapok, besoknya beli lagi.
“Kapok?”
“Teu.”
“Terus kenapa beli lagi?”
“Da ngeunah.”
Nah, ini yang susah dijelaskan oleh ilmu pengetahuan.
Mungkin karena seblak punya kemampuan luar biasa mengubah penderitaan menjadi kenikmatan.
Pedasnya bikin nangis, tapi nagih. Kuahnya panas, tapi dicari. Kerupuknya lembek, tapi dibela. Ceker susah dimakan, tapi tetap dipesan.
Seblak adalah bukti bahwa manusia Bandung punya prinsip hidup yang cukup unik: kalau sesuatu bisa dibuat lebih rumit, kenapa harus dibuat sederhana?
Kerupuk saja tidak cukup. Harus direbus.
Makan kerupuk saja tidak cukup. Harus dicampur ini-itu.
Pedas saja tidak cukup. Harus sampai keringetan.
Dan setelah semuanya selesai, bilang, “Hayu deui.”
Mungkin sebenarnya seblak bukan makanan.
Seblak adalah representasi kehidupan warga Bandung.
Dingin kotanya, panas makanannya.
Jalannya macet, tapi tetap berangkat.
Hujan turun, tetap nongkrong.
Dompet menipis, tetap ngopi.
Dan ketika hidup sedang tidak baik-baik saja, solusinya kadang sederhana: duduk, makan seblak, lalu bilang, “Nya geus, engké dipikirkeun.”
Karena hidup memang tidak selalu harus kriuk-kriuk.
Kadang harus lembek dulu supaya tahu rasanya bertahan.
Dan kalau akhirnya kepedesan?
Ya tinggal minum.***

