Receh Banget – Ada satu tradisi sederhana yang sebenarnya punya kekuatan luar biasa untuk mempererat hubungan antarmanusia: ngaliwet.
Jangan dianggap remeh. Di atas daun pisang, nasi liwet bisa menyatukan orang-orang yang sehari-hari cuma saling berpapasan sambil mengangguk.
Sebelum ngaliwet, tetangga mungkin cuma tahu nama. Setelah ngaliwet, bisa tahu nama anaknya, asal kampungnya, sampai siapa yang paling banyak mengambil ayam.
Itulah keajaiban makan bersama.
Ngaliwet juga punya aturan tidak tertulis. Semua duduk melingkar, makanan ditaruh di tengah, lalu masing-masing mengambil secukupnya. Walaupun dalam praktiknya ada saja manusia yang mengambil ayam duluan seolah-olah ayam tersebut sedang mengikuti lelang.
“Eh, laukna bagi dua!”
“Nya atuh, ieu mah bagian saya.”
Lima menit kemudian suasana kembali normal. Karena di depan nasi liwet, ego biasanya ikut lapar.
Yang menarik, ngaliwet tidak membutuhkan dekorasi mahal. Cukup nasi, ikan asin, sambal, lalapan, tahu, tempe, dan orang-orang yang mau duduk bersama.
Bahkan obrolan yang awalnya cuma, “Kumaha damang?” bisa berkembang menjadi diskusi panjang tentang harga sembako, anak sekolah, jalan rusak, sampai siapa yang kemarin parkir sembarangan.
Di situlah fungsi sebenarnya.
Kita sering hidup berdampingan, tetapi belum tentu hidup bertetangga. Rumah bersebelahan, pagar berdempetan, tapi komunikasi cuma terjadi ketika paket salah alamat.
Padahal kalau hubungan tetangga baik, lingkungan jadi lebih nyaman. Ada yang bisa dimintai tolong ketika kita bepergian. Ada yang bisa mengabari ketika rumah kita bermasalah. Bahkan ada yang bisa sekadar menemani ngobrol ketika hidup sedang agak berat.
Maka ngaliwet sepertinya memang perlu terus digalakkan.
Bukan cuma untuk mengisi perut, tapi juga mengisi silaturahmi.
Sebab kadang untuk membuat orang akrab, kita tidak membutuhkan seminar komunikasi.
Cukup satu tikar, satu hamparan nasi liwet, sambal yang agak pedas, dan kalimat sederhana:
“Hayu atuh, tuang heula.”
Dari sana, bisa jadi lahir persahabatan.
Atau minimal, tetangga tidak lagi salah sebut nama kita.
Itu juga sudah kemajuan.***

