Receh Banget – Ada mahasiswa yang kuliah di Bandung sampai bertahun-tahun.
Semester satu: semangat. Semester dua: mulai kenal kantin. Semester empat: mulai kenal kafe. Semester delapan: mulai kenal skripsi.
Semester dua belas: mulai kenal bahwa dosen pembimbing ternyata juga manusia yang punya batas kesabaran.
Lalu semester tiga belas? Sudah bukan mahasiswa lagi. Sudah jadi warga tetap.
Kalau ditanya, “Kamu kuliah di mana?” Jawabannya, “Di Bandung.”
“Jurusan apa?” “Masih sama.”
“Semester berapa?” Diam.
Karena ada pertanyaan yang lebih baik tidak dijawab daripada membuat suasana menjadi canggung.
Sebenarnya ada alasan kenapa orang betah kuliah di Bandung. Kotanya enak. Banyak makanan. Banyak tempat nongkrong.
Cuaca lumayan adem. Kampusnya banyak. Orang-orangnya ramah.
Dan yang paling berbahaya: terlalu banyak alasan untuk berkata, “Besok aja mulai seriusnya.”
Skripsi belum selesai? “Nanti malam.” Malam datang. “Nanti besok.” Besok datang. “Senin deh.” Senin datang. “Kan masih ada minggu depan.”
Begitulah skripsi berubah dari tugas akhir menjadi hubungan jangka panjang.
Bahkan kadang hubungan dengan skripsi lebih awet daripada hubungan dengan pacar.
Pacar bisa putus. Skripsi? Tetap kembali ke kita.
Yang lebih lucu, ada mahasiswa yang sebenarnya tidak malas. Dia cuma terlalu nyaman. Bangun siang. Ngopi. Ke kampus. Ketemu teman. Diskusi. Makan. Nongkrong. Pulang. Besok diulang.
Sementara skripsinya di laptop masih membuka halaman pertama.
File-nya bahkan sudah diberi nama: SKRIPSI FIX.
Lalu tiga bulan kemudian muncul:
SKRIPSI FIX BANGET
Lalu:
SKRIPSI FIX FINAL
Lalu:
SKRIPSI FIX FINAL REVISI
Lalu:
SKRIPSI FIX FINAL REVISI TERBARU
Laptopnya mungkin sudah bingung.
“Ini skripsi atau hubungan toxic?”
Tapi memang Bandung punya satu jebakan yang sulit dijelaskan: kota ini membuat orang betah.
Terlalu betah sampai kadang lupa bahwa tujuan awal datang ke Bandung adalah kuliah, bukan mencari tempat tinggal permanen di sekitar kampus.
Tapi tidak semua yang lama lulus berarti gagal.
Ada yang memang sedang berjuang dengan keadaan, pekerjaan, keluarga, kesehatan, ekonomi, atau persoalan hidup yang tidak terlihat dari luar.
Jadi kalau ada teman yang belum lulus, jangan buru-buru diketawain.
Tapi kalau sudah semester 17 dan masih sibuk mencari kafe baru buat ngerjain skripsi, ya…
punten, mungkin yang perlu diganti bukan kafenya.
Yang perlu diganti itu kebiasaannya.
Karena Bandung memang boleh bikin betah.
Kampus boleh bikin nyaman.
Kopi boleh bikin melek.
Tapi masa depan tidak bisa diselesaikan dengan nongkrong terus.
Sebab pada akhirnya, hidup bukan soal berapa lama kita tinggal di Bandung.
Tapi apakah selama tinggal di sana, kita benar-benar tumbuh.
Skripsi boleh lama.
Proses boleh lambat.
Tapi ulah betah teuing dina fase “nanti”.
Sebab “nanti” itu tempat yang nyaman.
Dan banyak orang gagal bukan karena tidak mampu.
Mereka cuma terlalu lama tinggal di sana.***

