Receh Banget – Kalau Epicurus hidup zaman sekarang, mungkin dia bakal heran melihat manusia rela lembur demi membeli barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan, lalu stres karena cicilannya belum lunas.
Padahal, sekitar 2.300 tahun lalu, Epicurus sudah ngomongin kebahagiaan dengan cara yang cukup sederhana: hidup enak itu tidak harus mewah. Yang penting kebutuhan dasar terpenuhi, tubuh tidak tersiksa, pikiran tenang, dan punya teman yang bisa diajak ngobrol tanpa harus bayar membership.
Menurut Epicurus, masalah manusia sering muncul karena keinginan yang tidak ada ujungnya. Hari ini ingin HP baru. Besok ingin mobil baru. Lusa ingin rumah lebih besar. Setelah punya semuanya, masih kepikiran tetangga yang rumahnya lebih besar.
Akhirnya hidup bukan lagi mencari bahagia, tapi mencari sesuatu yang bisa dipamerkan.
Bukan berarti Epicurus mengajarkan manusia jadi kaum rebahan profesional. Ia justru mengajarkan kesederhanaan dan kemampuan membedakan mana kebutuhan, mana keinginan.
Lapar? Makan. Haus? Minum. Capek? Istirahat. Punya teman baik? Pertahankan. Punya masalah? Jangan ditambah dengan overthinking sampai jam tiga pagi.
Sederhana, tapi manusia modern sering gagal di bagian terakhir. Buat Epicurus, hidup bahagia bukan soal punya sebanyak-banyaknya, tetapi mampu merasa cukup dengan apa yang sudah dimiliki.
Karena kadang yang bikin kita tidak bahagia bukan hidup yang kurang, melainkan standar hidup yang kebanyakan.
Jadi kalau hari ini belum punya Lamborghini, santai saja. Epicurus juga tidak punya. Dan dia tetap jadi bahan pembicaraan sampai sekarang.***

