RECEHBANGET.NET – Ada satu pertanyaan yang kadang muncul di kepala orang tua ketika melihat anak remaja nongkrong di kafe: “Ini anak duitnya dari mana?”
Kita dulu umur 16 tahun kalau punya uang Rp20 ribu sudah merasa seperti pemegang saham. Mau jajan dihitung. Mau beli pulsa mikir. Kalau diajak teman makan, jawabannya, “Aku kenyang.”.Padahal belum makan.
Sekarang sebagian anak remaja duduk di kafe dengan laptop, HP, minuman yang namanya lebih panjang daripada judul skripsi, sambil ngobrol santai seolah baru selesai rapat direksi.
Kopi Rp35 ribu. Makanan Rp45 ribu. Parkir. Transportasi. Belum kalau foto-foto.
Pertanyaannya sederhana: “Duitnya dari mana?”
Ada yang memang uang saku. Ada yang ditabung. Ada yang bekerja atau punya penghasilan sendiri. Ada yang ditraktir teman. Ada juga yang mungkin… sistem ekonominya masih mengandalkan APBN keluarga.
Ayah sebagai kementerian keuangan. Ibu sebagai bendahara umum negara. Anak sebagai penerima subsidi.
Setiap ditanya:
“Uang dari mana?”
“Dikasih.”
“Siapa?”
“Orang tua.”
Selesai.
Tidak ada audit.
Namun sebenarnya persoalannya bukan sekadar anak muda nongkrong di kafe. Nongkrong bukan dosa. Kafe juga bukan tempat terlarang bagi remaja. Mereka butuh bersosialisasi, ngobrol, bertemu teman, mencari inspirasi, bahkan mengerjakan tugas.
Yang menarik adalah budaya konsumsi yang kadang ikut tumbuh bersama gaya hidup itu.
Karena sekarang bukan cuma makan yang penting. Makanan harus difoto. Minuman harus difoto. Tempat duduk harus difoto. Laptop harus masuk frame. Kalau bisa terlihat sedikit buku supaya kesannya produktif. Padahal bukunya dibuka dari tadi di halaman yang sama.
Kafe akhirnya bukan hanya tempat minum kopi. Ia menjadi studio kecil untuk membangun citra kehidupan.
Dan di sinilah anak muda perlu belajar satu hal penting: jangan sampai kita membeli sesuatu bukan karena membutuhkan, tapi karena takut terlihat tidak mampu membelinya.
Karena media sosial sering membuat hidup orang lain terlihat seperti etalase. Teman upload nongkrong. Teman lain liburan. Teman lain beli sepatu. Teman lain makan di restoran.
Kita melihat semuanya lalu merasa hidup kita tertinggal.
Padahal kita tidak pernah melihat bagian belakang layar.
Kita tidak tahu siapa yang ditraktir. Kita tidak tahu siapa yang sedang berutang. Kita tidak tahu siapa yang sebenarnya sedang kesulitan.
Kita cuma melihat satu foto dan kemudian menyimpulkan seluruh kehidupan seseorang.
Padahal Instagram itu album, bukan laporan keuangan. Maka kalau kamu remaja dan punya uang untuk nongkrong, silakan. Nikmati. Bersosialisasi. Belajar. Tapi jangan lupa belajar juga bagaimana uang itu datang dan pergi.
Kalau Rp100 ribu habis dalam satu sore, pahami bahwa Rp100 ribu mungkin bagi orang tua bukan sekadar angka.
Bisa jadi itu ongkos kerja. Bisa jadi itu uang belanja. Bisa jadi itu hasil lembur. Bisa jadi itu uang yang dikumpulkan sedikit demi sedikit.
Di sinilah nongkrong bisa berubah menjadi pelajaran ekonomi paling sederhana.
Uang bukan cuma alat untuk membeli kesenangan. Uang adalah waktu yang sudah ditukar menjadi nilai.
Orang tua bekerja beberapa jam untuk mendapatkan uang. Lalu kita menghabiskannya dalam satu jam untuk membeli es kopi dan kentang.
Tidak salah. Tapi sebaiknya tahu nilainya. Karena semakin dewasa, kita akan sadar bahwa yang mahal bukan kopi.
Yang mahal adalah waktu untuk menghasilkan uang membeli kopi itu. Maka sesekali, sebelum pesan minuman Rp40 ribu, tanyakan kepada diri sendiri:
“Kalau uang ini uang hasil kerja saya sendiri, apakah saya tetap mau membelinya?”
Kalau jawabannya iya, silakan. Kalau jawabannya tidak… Selamat. Kamu baru saja lulus satu mata kuliah bernama kesadaran finansial.
Dan untuk para orang tua, jangan juga setiap melihat anak nongkrong langsung bertanya dengan wajah interogator:
“Duit dari mana?”
Bisa jadi anak memang sedang belajar bersosialisasi. Lebih baik ajarkan mereka mengelola uang daripada sekadar melarang mereka menggunakannya.
Ajari membedakan kebutuhan dan keinginan. Ajari menabung. Ajari bekerja. Ajari bahwa gengsi itu mahal dan sering kali tidak menghasilkan apa-apa.
Karena suatu hari subsidi keluarga akan berhenti. Kementerian Keuangan rumah tangga akan pensiun. Dan anak harus menjadi Menteri Keuangan bagi dirinya sendiri.
Di titik itu, dia baru sadar:
“Oh… ternyata Ayah dulu capek juga, ya.”
Mungkin kedewasaan memang sesederhana itu. Dulu kita cuma tahu bagaimana uang dibelanjakan. Semakin dewasa, kita mulai bertanya:
“Siapa yang bekerja untuk mendapatkan uang ini?”
Lalu suatu hari kita bekerja sendiri. Dan pertanyaannya berubah lagi:
“Apa yang layak saya beli dengan waktu hidup saya?”
Nah, itu baru pertanyaan yang mahal.
Jadi kalau melihat anak remaja nongkrong di kafe, tidak perlu langsung curiga mereka sedang menjalankan bisnis pencucian uang.
Bisa jadi cuma ngopi.
Tapi semoga suatu hari mereka bukan hanya menjadi orang yang mampu membeli kopi.
Semoga mereka juga menjadi orang yang tahu cara menghasilkan uang, menghargai uang, dan tidak diperbudak oleh keinginan untuk terlihat punya uang.
Karena hidup bukan tentang seberapa mahal tempat kita duduk.
Pada akhirnya, yang lebih penting adalah:
siapa yang sedang kita bangun di dalam diri ketika kita duduk di sana.
Mau ngopi di kafe mahal atau ngopi di warung depan gang, kalau pikiran terus tumbuh, hidup tetap punya arah.
Nyaah ka kopi mah boleh. Nyaah ka gengsi, ulah teuing.***

