RECEHBANGET.NET – Jalan-jalan sama calon mertua itu bukan sekadar wisata.
Itu uji kelayakan manusia. Bedanya dengan ujian masuk kampus, soal-soalnya tidak pernah dibagikan dan pengawasnya bisa tiba-tiba bertanya, “Kamu ke depannya mau seperti apa?” Padahal lima menit sebelumnya kita masih sibuk memilih antara ayam geprek atau nasi goreng.
Kalau sudah diajak jalan sama calon mertua, jangan terlalu santai. Tapi jangan juga tegang seperti sedang diperiksa KPK. Ingat, mereka bukan mau menangkap kamu. Mereka cuma sedang memastikan anaknya tidak salah memilih manusia.
Tips pertama, jangan sok tahu. Kalau ditanya jalan, jangan langsung menjawab dengan penuh keyakinan, “Tenang, saya tahu jalannya.” Padahal Google Maps saja sudah tiga kali bilang, “Putar balik jika memungkinkan.” Lebih baik jujur. “Kayaknya lewat sini, tapi saya cek dulu.” Dalam kehidupan, orang yang mau mengecek sering kali lebih selamat daripada orang yang terlalu percaya diri.
Kedua, jangan rebutan ngobrol. Calon mertua bukan penonton podcast. Kamu tidak harus menjelaskan semua hal tentang dirimu. Apalagi baru kenal sudah cerita omzet, investasi, koleksi sepatu, saldo e-wallet, sampai rencana membeli tanah di Mars. Sok kaya mah engké gé kabaca. Biarkan percakapan mengalir.
Ketiga, perhatikan hal-hal kecil. Buka pintu kalau memang memungkinkan. Tawarkan tempat duduk. Tanyakan sudah makan atau belum. Kalau membawa kendaraan, jangan menyetir seperti sedang mengejar final MotoGP. Tujuannya jalan-jalan, bukan membuat calon mertua mengenal Tuhan lebih dekat.
Keempat, jangan terlalu sibuk mencari perhatian pasangan di depan orang tuanya. Pegangan tangan boleh kalau situasi dan batasannya memang nyaman. Tapi jangan sampai sepanjang perjalanan sibuk romantis-romantisan sementara calon mertua duduk di belakang seperti penumpang travel yang salah pilih agen.
Kelima, jangan pura-pura menjadi orang lain. Ini yang paling penting. Kamu tidak perlu tiba-tiba menjadi filsuf, pengusaha, ustaz, traveler, ahli sejarah, atau keturunan bangsawan Cirebon hanya karena sedang duduk bersama calon mertua. Jadilah versi terbaik dari dirimu, bukan versi palsu yang nanti capek mempertahankannya.
Kalau tidak tahu sesuatu, bilang tidak tahu. Kalau salah, minta maaf. Kalau ditanya pendapat, jawab dengan tenang. Kalau berbeda pandangan, jangan langsung debat seperti sedang memenangkan Pemilu. Karena kedewasaan bukan kemampuan untuk selalu menang dalam percakapan. Kadang justru kemampuan untuk berkata, “Saya paham maksudnya.”
Dan jangan lupa satu hal: orang tua biasanya lebih memperhatikan cara kamu memperlakukan orang daripada seberapa pintar kamu bicara.
Mereka mungkin lupa apa yang kamu ceritakan tentang pekerjaan. Mereka mungkin lupa merek jam yang kamu pakai. Mereka mungkin lupa mobil apa yang kamu bawa. Tapi mereka akan ingat bagaimana kamu memperlakukan anaknya.
Apakah kamu sabar? Apakah kamu menghargai? Apakah kamu bertanggung jawab? Apakah kamu bisa dipercaya? Karena pada akhirnya, calon mertua bukan sedang mencari menantu yang paling keren.
Mereka sedang melihat seseorang yang mungkin suatu hari akan menjadi bagian dari keluarga.
Jadi kalau mau jalan-jalan sama calon mertua, tidak perlu terlalu sibuk membuktikan bahwa kamu hebat.
Cukup buktikan bahwa kamu tidak membahayakan. Tidak membahayakan di jalan. Tidak membahayakan dompet. Tidak membahayakan mental anaknya. Dan yang paling penting, tidak membahayakan masa depan.
Karena jodoh itu bukan sekadar mencari orang yang bisa diajak jalan-jalan.
Jodoh adalah mencari seseorang yang ketika perjalanan hidup mulai masuk jalan rusak, hujan turun, bensin menipis, dan Google Maps berkata “Anda telah tiba di tujuan” padahal kita masih nyasar…
dia tidak turun dari kendaraan sambil berkata, “Kamu mah kumaha sih?”
Dia ikut mencari jalan. Mungkin itulah inti dari perkenalan dengan calon mertua. Bukan bagaimana membuat mereka kagum.
Tapi bagaimana menunjukkan bahwa anak mereka berada di tangan seseorang yang waras, bertanggung jawab, dan punya niat baik.
Karena dalam perjalanan menuju keluarga, yang paling penting bukan siapa yang paling pandai membawa kendaraan.
Tapi siapa yang tetap mau duduk di sebelah kita ketika jalannya tidak lagi mulus.***

