Receh Banget – Dulu godaan datang dari luar rumah. Sekarang godaan bisa masuk ke kamar tanpa mengetuk pintu.
Cukup buka HP.
Niatnya cuma mau melihat jam, tiba-tiba satu jam kemudian kita sudah tahu kehidupan orang yang bahkan tidak kita kenal.
Lihat orang liburan, iri.
Lihat orang beli rumah, minder.
Lihat orang sukses, membandingkan diri.
Lihat orang pamer pencapaian, mulai bertanya kepada diri sendiri, “Kapan saya seperti dia?”
Padahal bisa jadi orang tersebut juga sedang melihat akun orang lain dan berpikir, “Kapan saya seperti dia?”
Begitulah media sosial.
Semua orang terlihat bahagia, sukses, kaya, produktif, sehat, dan punya kehidupan yang tertata.
Sementara kita duduk di kasur sambil mencari charger yang sebenarnya ada di samping tangan.
Di zaman seperti sekarang, istigfar menjadi penting.
Bukan karena kita merasa paling banyak dosa, tetapi karena hati manusia gampang sekali terpancing.
Sedikit komentar bikin emosi.
Beda pendapat sedikit, langsung ingin debat.
Melihat orang sukses, bukannya ikut senang malah sibuk mencari kekurangannya.
Melihat orang gagal, diam-diam merasa bersyukur karena ternyata hidup kita masih lebih baik.
Padahal hati juga perlu dijaga.
Istigfar bukan tombol ajaib yang membuat semua masalah langsung hilang. Tapi istigfar bisa menjadi pengingat bahwa kita ini manusia yang punya banyak kekurangan.
Kadang yang perlu diperbaiki bukan keadaan, tapi cara kita melihat keadaan.
Ketika hidup terasa berat, coba berhenti sebentar.
Tarik napas.
Ucapkan, “Astaghfirullah.”
Bukan untuk melarikan diri dari masalah, tapi untuk menenangkan hati sebelum mengambil keputusan.
Sebab di zaman sekarang, godaan bukan cuma datang dari jalanan.
Bisa muncul dari layar HP, dari kolom komentar, dari notifikasi, bahkan dari pikiran sendiri.
Jadi kalau hari ini hati gampang panas, pikiran gampang negatif, dan mulut mulai gatal ingin mengomentari kehidupan orang lain, mungkin sudah waktunya memperbanyak istigfar.
Da hirup di zaman ayeuna, setan mah teu kudu datang ka imah.
Sinyal WiFi sudah cukup.***
Semoga kita diberi hati yang lebih tenang, lisan yang lebih terjaga, dan kemampuan untuk membedakan mana yang memang perlu dipikirkan dan mana yang cukup dilewatkan sambil berkata:
“Astaghfirullah… teu kudu kabawa teuing.”

