RECEH BANGET – Ada kota yang ketika didatangi membuat kita ingin buru-buru mencari tempat wisata.
Tapi ada juga kota yang justru membuat kita ingin memperlambat kendaraan.
Purwakarta salah satunya.
Entah apa yang terjadi, baru masuk wilayah Purwakarta, rasanya kepala perlahan menurunkan volume.
Yang tadinya mikirin pekerjaan, mulai mikirin makan.
Yang tadinya mikirin cicilan, mulai mikirin, “Di dieu aya tempat ngopi teu?”
Itulah anehnya jalan-jalan ke Purwakarta.
Kita berangkat dengan pikiran penuh, pulang membawa oleh-oleh dan beberapa kilogram ketenangan.
Mungkin karena suasananya. Mungkin karena pemandangannya. Atau mungkin karena otak kita sadar: kalau sudah jalan-jalan, masalah kantor tidak akan mengejar sampai tempat wisata.
Pemandangan alamnya juga membuat kita sedikit malu kepada diri sendiri.
Selama ini kita sibuk mengeluhkan hidup, padahal di depan mata ada bukit, sawah, waduk, dan langit yang tidak pernah ikut rapat.
Apalagi kalau sudah duduk santai sambil menikmati makanan.
Di titik itu, persoalan hidup biasanya berubah skala.
Tadi pagi masalahnya terasa seperti bencana nasional.
Setelah makan, ternyata cuma lapar.
Ini penting.
Kadang manusia bukan sedang punya banyak masalah. Kadang cuma belum makan.
Purwakarta juga punya banyak pilihan kuliner yang cocok untuk wisata santai. Mau makanan tradisional, jajanan, tempat ngopi, sampai sekadar mencari tempat untuk duduk sambil bengong juga bisa.
Dan bengong itu kadang perlu.
Tidak semua perjalanan harus dipenuhi itinerary.
Ada kalanya kita jalan tanpa target, berhenti ketika menemukan tempat menarik, makan ketika lapar, ngopi ketika ngantuk, lalu pulang ketika sadar bensin tinggal seperempat.
Nya kitu.
Wisata tidak selalu tentang mengejar banyak tempat.
Kadang perjalanan terbaik justru ketika kita pulang dengan perasaan lebih ringan.
Mungkin itu sebabnya Purwakarta terasa tenang.
Bukan karena masalah hidup kita hilang.
Tapi karena untuk beberapa jam, kita memberi kesempatan kepada kepala untuk tidak memikirkan semuanya.
Dan kalau ternyata setelah pulang masalahnya masih ada?
Ya sudah.
Minimal sudah makan.***

